Manfaat Model Pelatihan KAPAS GULA untuk guru masa kini

Oleh: Eva Dwi Susanti, S.Pd.Guru SMP Negeri 3 Cepiring

“Bu, nanti istirahat jam berapa?” tanya siswa pada jam pembelajaran pertama.

“Bu, nanti pulang sekolah jam berapa?” tanya siswa pada jam pembelajaran kedua.

Kalimat tanya itulah kiranya yang cukup kerap ditanyakan oleh siswa ke saya, juga ke guru lain, kata beberapa guru yang kadang kita sharing kegiatan mengajar hari itu.

Apakah pembelajaran saya terlalu membosankan untuk mereka? Rasanya seperti bodoh sekali untuk lulusan Pendidikan profesi yang sudah belajar materi profesi guru, pedagogik, diferensiasi, hingga teori perkembangan anak. Ternyata, simpulan yang saya lewatkan adalah bahwa guru itu pembelajar sepanjang hayat.

Kembali mengajar setelah berkelana sebagai penyiar berita, ternyata dunia berubah begitu cepat. Mesikpun memantau kondisi sekitar lewat media, tetap saja berbeda dengan kondisi di lapangan. Mengajar di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan materi pelajaran. Paradigma pendidikan telah berubah secara signifikan, menuntut guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, bahkan pendamping psikologis bagi siswa. Perubahan zaman yang pesat, terutama dalam aspek teknologi dan sosial, menghadirkan tantangan yang kompleks dalam dunia pendidikan. Kurikulum yang terus diperbarui, penggunaan teknologi digital dalam proses pembelajaran, serta penekanan pada pembelajaran berbasis proyek dan karakter, semuanya menuntut kompetensi yang lebih dari seorang guru. Tapi sebelum meranah ke hal tersebut, lalu bagaimana dengan kasus siswa yang belum bisa baca dan tulis?

Tahun ajaran baru, siswa kelas 7 saat ini, ada siswa yang belum bisa membaca dan menulis. Entah seperti apa usaha guru sebelumnya dan latar belakang siswa tersebut di sekolah dasarnya. Karena kata pepatah, adab lebih penting dari ilmu. Benar saja memang siswa tersebut pendiam, penurut dengan guru. Apakah sekarang kemudian lumrah dan tetap harus naik kelas? Atau karena berbagai berbagai tantangan kompleks tadi dalam dunia Pendidikan sehingga guru belum cukup melayani siswanya?

Tantangan lain yang semakin terasa adalah kondisi sosial siswa. Mayoritas siswa di sekolah tempat saya mengajar berasal dari keluarga yang kurang

memberikan perhatian terhadap pendidikan anak. Banyak dari mereka datang ke sekolah tanpa motivasi belajar yang kuat, terbebani masalah keluarga, atau bahkan tidak mendapat pengawasan yang layak di rumah. Hal ini berdampak pada perilaku siswa di kelas, seperti kurang disiplin, tidak fokus, hingga tidak memiliki tujuan belajar yang jelas.

Dalam kondisi seperti ini, peran guru menjadi sangat kompleks. Guru tidak hanya harus menyampaikan pelajaran, tetapi juga memberikan perhatian lebih kepada kondisi psikologis siswa. Ini tentu bukan hal yang mudah, apalagi jika dilakukan tanpa bekal keterampilan yang memadai.

Di era sekolah Tengah kota membutuhkan kompetensi lanjutan dalam pembelajaran AI, coding, dan lain sebagainya. Sungguh, di sekolah tempat saya mengajar lebih membutuhkan bagaimana pengelolaan kelas yang lebih kondusif dan membuat mereka mau untuk belajar. Ya, literasi di sini memang sangat kurang. Literasi di sini tidak hanya untuk siswa, tapi juga ke gurunya. Sekali lagi, hal yang kadang sudah tahu tapi kadang lupa atau karena terlalu idealis dengan masa lalu, bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Situasi tersebut semakin menegaskan pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi para guru. Pelatihan yang tidak hanya teknis, tetapi juga menyentuh aspek manajemen kelas, psikologi anak, dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Guru harus dibekali keterampilan untuk mengajar di era digital, menghadapi siswa dengan latar belakang keluarga yang beragam, serta mampu menjadi agen perubahan yang adaptif. Program-program pelatihan guru semestinya tidak bersifat seremonial atau teoritis semata, tetapi harus aplikatif dan kontekstual. Pelatihan juga sebaiknya berlangsung secara berkelanjutan dan difasilitasi oleh praktisi yang memahami kondisi riil di sekolah. Dengan dukungan yang tepat dari pemerintah, sekolah, serta komunitas pendidikan, saya yakin kualitas guru dan pendidikan di Indonesia dapat terus meningkat.

Salah satu upaya baik untuk permasalahan tersebut adalah KAPAS GULA atau Peningkatan Kapasitas Guru Berkelanjutan, oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. Pada implementasinya oleh kelompok belajar (kombel) SMP Negeri 3 Cepiring, dilaksanakanlah Workshop Peningkatan Literasi dengan menciptakan media Belajar Menarik Berbantu Asisten AI dengan Narasumber Kaur Kurikulum, Sidi Narbuko, S.Pd.,M.Si.

Melalui implementasi KAPAS GULA ini, saya mendapat gambaran lain yang bisa dikreasikan lagi dalam merangkai pembelajaran. Ide-ide yang kadang buntu, bisa dikreasi dengan AI untuk menarik perhatian siswa, agar lebih semangat belajar dan tetap mengikuti perkembangan zaman. AI yang saat ini bisa diakses dengan mudah oleh siswa, dengan arahan dan pendampingan guru bisa menjadi lebih bermanfaat dalam pembelajaran. Selain itu, dengan pengenalan AI ke siswa, juga menjadikan guru tidak berhenti disitu, tetapi belajar lebih lagi agar bisa selalu menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.