Kapas Gula: Program Pelatihan Inovatif Tingkatkan Profesionalisme Guru SD N 2 Kutoharjo

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, SD N 2 Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, sukses mengimplementasikan program pelatihan bertajuk “Kapas Gula” (Kapasitas Guru Berkelanjutan). Program inovatif ini digagas oleh Supardi, M.Pd., Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, sebagai langkah strategis untuk membekali guru dengan kompetensi pembelajaran abad ke-21.


Pelatihan Kapas Gula dilaksanakan secara intensif pada Senin, (26/5), bertempat di Ruang Kelas VI SD Negeri 2 Kutoharjo, dengan diikuti oleh seluruh guru sekolah. Program ini dirancang berdasarkan hasil supervisi akademik dan refleksi mendalam dari guru, yang dituangkan dalam rapor kompetensi guru, sehingga materi pelatihan sangat relevan dengan kebutuhan aktual di lapangan.


Meskipun Supardi tidak hadir langsung, beliau menyampaikan dukungan dan pandangan mengenai pentingnya program ini melalui pernyataan tertulis. “Kapas Gula dirancang untuk membekali guru dengan strategi pembelajaran inovatif yang aplikatif dan kontekstual, sehingga guru mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Program ini diharapkan menjadi solusi nyata dalam pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Sekolah SD N 2 Kutoharjo, Normalia Eka Pratiwi, M.Pd, menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari ekosistem pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan nyata guru. “Pelatihan kami laksanakan di ruang kelas VI pada tanggal 26 Juni dengan semangat tinggi, meski menghadapi tantangan seperti keterbatasan waktu dan kesiapan teknologi. Guru-guru sangat antusias dan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” katanya.


Menurut Normalia, tantangan terbesar adalah integrasi teknologi digital dalam proses pembelajaran. “Tidak semua guru memiliki latar belakang digital yang memadai. Untuk itu, kami merekomendasikan pelatihan lanjutan khusus teknologi serta dukungan fasilitas agar inovasi pembelajaran dapat berjalan optimal,” tambahnya.
Materi pelatihan berfokus pada strategi pembelajaran inovatif seperti Project-Based Learning (PjBL), Problem-Based Learning (PBL), dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat pengalaman belajar siswa. Guru tidak hanya mendapat paparan materi, tetapi juga terlibat dalam praktik langsung, menyusun rancangan pembelajaran, presentasi, serta diskusi studi kasus. Metode ini membangun komunitas belajar yang dinamis dan saling mendukung.


Hasil monitoring yang dilakukan melalui observasi langsung dan laporan guru pasca pelatihan menunjukkan bahwa sekitar 80 persen guru telah mengimplementasikan strategi pembelajaran baru di kelas mereka. Guru-guru mulai mengaplikasikan metode pembelajaran berbasis proyek dan masalah, serta memanfaatkan media digital untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

Zulaikah, S.Pd, salah satu guru peserta pelatihan, mengungkapkan, “Pelatihan Kapas Gula sangat membantu saya dalam menyusun pembelajaran yang menantang dan relevan bagi siswa. Saya melihat siswa menjadi lebih antusias karena pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan nyata mereka.”Peserta lain, Khoirunisak Hanum, S.Pd, menambahkan, “Pelatihan ini bukan hanya teori, tapi langsung praktik yang bisa kami terapkan. Saya berharap program Kapas Gula terus berkelanjutan dan diperluas ke sekolah-sekolah lain agar semakin banyak guru yang kreatif dan inovatif.”

Normalia juga menekankan perubahan paradigma penting yang terjadi dalam budaya sekolah. “Supervisi kini bukan lagi sekadar alat kontrol, melainkan bagian integral dari pengembangan profesional berkelanjutan. Guru semakin menyadari pentingnya refleksi diri dan kolaborasi agar mampu tumbuh menjadi pendidik yang adaptif dan responsif,” katanya.

Program Kapas Gula di SD N 2 Kutoharjo menunjukkan bahwa pelatihan yang dirancang berdasarkan kebutuhan aktual guru dan dilaksanakan secara partisipatif dapat mendorong peningkatan mutu pembelajaran secara signifikan. Supardi berharap, keberhasilan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain di Kabupaten Kendal untuk mengembangkan pola pelatihan guru yang kontekstual, partisipatif, dan berkelanjutan.

Dengan sinergi antara Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan guru, diharapkan pendidikan di Kendal dapat terus maju, menghasilkan guru-guru profesional yang mampu menjawab tantangan zaman demi masa depan anak didik yang lebih cerah. (NEP)