KAPAS GULA SEBAGAI ALTERNATIF SOLUSI PENINGKATAN KOMPETENSI GURU

Guru merupakan garda terdepan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Dalam Peraturan Direktur Jenderal Pendidik dan Tenaga Kependidikan No.2626/B/HK.04.01/2023 tentang Model kompetensi guru, disebutkan bahwa guru harus memiliki kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional. Hal itu diperlukan untuk mendukung kinerja guru sebagai ujung tombak pembelajaran yang berhadapan langsung dengan murid.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru, salah satunya melalui pelatihan. Namun, kondisi di sekolah, belum semua sekolah mampu mengidentifikasi kebutuhan pelatihan guru. Selain itu, pelatihan yang diadakan oleh stakeholder  seperti Dinas Pendidikan juga belum mampu menjangkau seluruh guru.

Sebagai salah satu alternatif mengatasi permasalahan tersebut, KAPAS GULA (Kapasitas Guru Berkelanjutan) dikenalkan sebagai model pelatihan di komunitas belajar sekolah. Model pelatihan ini menggunakan data awal kompetensi guru berdasarkan rapor kompetensi yang disusun oleh kepala sekolah sebagai hasil observasi pada penilaian kinerja. Melalui observasi tersebut, kepala sekolah dapat merumuskan bagaimana skoring kompetensi pedagogik dan profesional guru. Indikator kompetensi tersebut mengacu pada model kompetensi guru yang telah menjadi acuan pengembangan kompetensi. Kapas Gula juga merupakan wujud riil kolaborasi antara guru, kepala satuan pendidikan, serta pendamping. Hal ini tampak pada penentuan rekomendasi belajar guru berdasarkan rapor guru. Rekomendasi dipilih berdasarkan skala prioritas. Rekomendasi tersebut diwujudkan dalam bentuk sesi belajar bersama di komunitas belajar sekolah yang dilakukan pada hari belajar guru. Sinkronisasi berbagai program ini tentu menjadi hal yang menarik karena guru dan satuan pendidikan tidak harus meluangkan waktu untuk program baru, tetapi cukup dengan menyinkronkan program-program yang ada agar lebih relevan.

Model pelatihan ini perlu dimasifkan untuk dapat diterapkan di seluruh satuan pendidikan di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. Untuk itu, sosialisasi diperlukan agar semua pihak memahami latar belakang, alur, serta dampak Kapas Gula. Sosialisasi dilakukan bertahap untuk menjangkau semua elemen. Misalnya, sosialisasi untuk jenjang Sekolah Dasar yang diperuntukkan bagi korwil, pengawas, kelompok kerja kepala sekolah, dan operator sekolah telah dilakukan pada Kamis, 15 Mei 2025 di aula Ki Hajar Dewantara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal. “Kapas Gula dapat mencapai tujuannya jika semua pihak mendukung dengan melaksanakan alur yang ada tanpa menambah beban pekerjaan”, ungkap Bapak Supardi, S.Pd., M.Pd. Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal yang menjadi pencetus model pelatihan ini. Model ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, bapak Drs. Ferinando RAD Bonay. “Model pelatihan ini diterapkan di semua jenjang di bawah naungan Disdikbud Kendal yang meliputi TK, SD, dan SMP”, ungkap beliau.

Berawal dari sosialisasi tersebut, program bergulir dengan monitoring dan evaluasi berkala untuk memantau bagaimana progress dan dampak program terhadap kompetensi guru. Melalui peningkatan kompetensi tersebut, tentu saja harapan akhir adalah perbaikan kualitas pembelajaran dan pelayanan terhadap murid.

Mungkin Anda juga menyukai