Pembiasaan Baik Kuatkan Karakter Siswa

Penulis: Juni Hidayati, S.Pd. (Guru SMPN 2 Gemuh)

Juni Hidayati

disdikbud.kendalkab.go.id – Karakter menjadi sebuah perilaku unik yang membedakan sesesorang dengan orang lain.

Banyak pihak yang bertanggung jawab dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak yang dididik baik di keluarga tidak menjamin memiliki perilaku yang baik ketika dewasa.

Karakter anak akan berkembang sesuai dengan teman pergaulannya. Bila pergaulannya baik, maka akan baik. Sebaliknya, bila pergaulannya buruk, maka kemungkinan anak berperilaku buruk pun ada.

Menyadari hal itu, selaku guru SMPN 2 Gemuh, saya berusaha mendidik dan menanamkan karakter yang baik. Penanaman karakter baik dilakukan ketika mengajar di kelas maupun luar kelas. Walau saya sudah berusaha keras menanamkan karakter baik pada siswa, masih belum sepenuhnya berhasil dalam mewujudkan karakter yang baik. Setelah dievaluasi, ternyata ada beberapa hal yang memengaruhi kegagalan, salah satunya adalah kurangnya kerja sama dengan pihak lain.

Untuk membentuk karakter siswa tidak semudah yang dibayangkan. Perlu waktu lama dan usaha terus menerus dan konsisten. Keberadaan siswa di sekolah kurang lebih 6-8 jam. Pembelajaran di sekolah biasanya berawal pukul 07.00 sampai 13.00, sisa waktu siswa lainnya dihabiskan di luar sekolah. Waktu yang cukup pendek tidak mampu membuat karakter siswa menjadi baik dengan seketika sesuai yang diharapkan. Berarti ada waktu yang digunakan siswa selama 19 sampai 16 jam di luar sekolah. Ketika siswa berada di luar sekolah, maka keluarga dan masyarakat turut bertanggung jawab dalam pembentukan karakter.

Siswa lebih banyak menghabiskan waktu di luar lingkungan sekolah. Keluarga menjadi pihak yang lebih banyak mengawasi putra-putrinya. Keberadaan orang tua sangat menentukan keberhasilan dalam membentuk karakter anak. Orang tua perlu bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memantau perkembangan karakter anak-anaknya. Orang tua juga diharapkan tahu apa saja yang sering diakses di gawai anak-anak mereka sebab teknologi turut mempengaruhi perilaku anak.

Penanaman karakter harus dilakukan oleh semua pihak. Ketika berada di sekolah seluruh elemen sekolah bertanggung jawab membentuk karakter siswa. Di kelas, siswa dididik oleh guru yang mengajar. Di kantin, siswa diajari sopan-santun, antri, dan menjaga kebersihan. Ketika istirahat siswa perlu diawasi oleh pendidik dan tenaga kependidikan, supaya tidak menggunakan kesempatan untuk usil kepada temannya. Ketika masuk waktu sholat dhuhur siswa yang beragama muslim perlu diajak sholat berjamaah.

Juni Hidayati bersama murid SMPN 2 Gemuh, Ringinarum

Adapun pembiasaan baik yang dilakukan SMPN 2 Gemuh untuk menanamkan karakter pada siswa-siswinya, antara lain: melakukan pembiasaan baik di sekolah, misalnya dengan membiasakan antri, memungut sampah yang berserakan, memilah dan memilih sampah sesuai jenisnya, membiasakan sholat dhuhur berjamaah, bekerja sama dengan kepolisian dan tentara untuk menanamkan karakter disiplin, mengadakan pembacaan surat yasin setiap hari Jumat Kliwon untuk memberikan pengaruh baik pada akhlak dan siraman rohani, mengadakan pameran hasil karya siswa untuk menunjukkan keberhasilan siswa dalam membuat produk, mengundang wali murid dalam beberapa periode untuk membicarakan perkembangan perilaku siswa.

Setelah dilakukan pembiasaan baik di sekolah, terjadi perubahan perilaku siswa menjadi lebih baik dari semula, seperti kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah terjaga, terbentuknya situasi yang kondusif dan menyenangkan saat pembelajaran, dan siswa bangga dengan hasil karya yang dipamerkan.

Anifatul, kelas 9H mengatakan bahwa dia senang ketika melihat lingkungan sekolah bersih. Anak-anak dilibatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Begitu juga ketika melihat hasil karyanya dipamerkan di sekolah. Dia sangat bangga saat hasil karyanya diapresiasi orang lain. Hal yang sama diungkapkan oleh Miftakhul Umi, guru Matematika yang bahagia tatkala melihat perilaku siswa-siswinya berubah menjadi baik dan menyenangkan. Seorang wali murid yang bernama Suwardani merasa terharu melihat putrinya rajin belajar dan membaca.

“Berkat bimbingan bapak ibu guru SMPN 2 Gemuh, putri saya, Anifah, semakin rajin belajar dan membantu orang tua,” ujarnya.

Kerja sama dan hubungan yang baik dengan berbagai pihak mutlak diperlukan untuk mendidik karakter siswa. Kami sebagai guru tidak mungkin melakukan sendiri pendidikan karakter. Terlebih siswa di usia SMP adalah waktu mereka melebarkan sayap untuk mencari jati diri di luar lingkungan pendidikan sekolah. Waktu yang dimiliki siswa lebih banyak dihabiskan di luar lingkungan sekolah. Maka, seyogyanya kerja sama yang baik antara guru, orang tua, dan masyarakat sekitar perlu ditingkatkan untuk terwujudnya karakter baik siswa.



Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Pembiasaan Baik Kuatkan Karakter Siswa, https://jateng.tribunnews.com/2023/09/08/pembiasaan-baik-kuatkan-karakter-siswa.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *