Pembelajaran IPA Berbasis Produk di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Dra. Irina Kurniati Lubis, M.Pd. Guru SMPN 2 Kendal dan Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation

—————————————————————————————————————-

Karakteristik Mapel Ilmu Pengetahan Alam (IPA) adalah menumbuhkan keterampilan sains bagi siswa. Cara belajar ini akan mengembangkan keterampilan siswa dan merangsang siswa untuk aktif dan kreatif.

Proses pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses sains (KPS) lebih banyak melibatkan siswa untuk bertindak lebih aktif, serta mengelola temuan yang diperoleh dari aspek-aspek keterampilan. Siswa dipandu dengan sebuah lembar kerja (LK) untuk menemukan fakta-fakta dan konsep dalam sebuah aktivitas.

Selain itu, konsep yang rumit dan abstrak jika dilakukan dengan contoh-contoh konkrit yang dialami melalui praktik sendiri, maka siswa akan menemukan konsep baru melalui kegiatan sains itu.

Oleh karena itu, di masa pandemi dengan PJJ, tujuan pembelajaran IPA bisa diperkuat dengan melakukan praktik secara langsung dengan tagihan produk yang terstruktur. Cara praktik pembelajaran ini akan menghasilkan pemahaman yang komprehensif bagi siswa.

Salah satu contoh dalam IPA menggunakan pola praktik yaitu materi perkembangbiakan vegetatif tumbuhan. Pada materi ini, siswa dapat praktik  langsung di rumah. Melakukan proses mencangkok di kebun dekat rumahnya dengan panduan buku  dan LK siswa yang telah diberikan sebelumnya dari sekolah.

Cara tersebut dapat meminimalisir kejenuhan pembelajaran yang saat ini dilakukan. Kebanyakan sehari-hari siswa hanya berfokus pada pengerjaan soal/tugas. Instruksi dan pengerjaannya melalui handphone dan laptop. Mau tidak mau, mereka berinteraksi dengan alat tersebut.

Belajar dengan metode ini akan melibatkan siswa melakukan sesuatu (mengalami), interaksi, komunikasi dengan alam, anggota keluarga, dan guru. Setelah proses pembelajaran, mereka akan menghasilkan sesuatu, dalam hal ini adalah hasil cangkokan. Lalu melakukan refleksi bersama dengan siswa agar proses tersebut memiliki makna lebih.

Kegiatan ini bisa diterapkan pada tumbuhan yang menghasilkan buah atau bunga, asal tumbuhan tersebut berjenis dikotil (berkambium). Kegiatan ini dilakukan di rumah dengan panduan lembar kerja siswa yang di-share melalui WhatsApp atau platform lain sesuai jenis komunikasi yang disepakati.

Dengan belajar dari rumah (BDR) siswa bersama anggota keluarganya dapat memilih jenis tumbuhan yang akan dicangkok. Berikutnya dilanjutkan dengan menyayat kulit batang, membersihkan kambiumnya, menutup batang yang sudah mengelupas dengan tanah subur yang lembab, dan membungkusnya dengan plastik berlubang ataupun sabut kelapa. Terakhir, kedua ujungnya diikat. Asik bukan?

Hasil cangkokan tersebut, disiram setiap hari dan ditunggu sampai batas waktu yang ditentukan sambil diamati keberhasilannya. Ketika muncul akar baru maka batang tersebut menjadi individu baru. Percobaan ini dilaporkan ke guru Mapel IPA baik yang berhasil maupun yang kurang berhasil.

Yang berhasil maupun kurang berhasil akan dilakukan refleksi dan dilaporkan kepada guru Mapel dan diberikan solusi.

PJJ berbasis produk ternyata tidak menjenuhkan karena melibatkan semua indera dan anggota gerak untuk menyelesaikannya. Produk berupa individu baru bisa dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Pembelajaran kecakapan hidup dengan unsur pembelajaran aktif MIKiR (mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi) yang dikembangkan Program PINTAR Tanoto Foundation dengan penguatan keterampilan proses sains dapat menjadi salah satu solusi yang tepat diterapkan di masa pandemi ini.

—————————————————————————————————————–

*Artikel ini telah tayang di Koran Radar Pekalongan tanggal 29 September 2020 halaman 9. Pada Kolom Opini Guru Hebat dan Inovatif Kolaborasi Tanoto Foundation dan Radar Pekalongan dengan judul Pembelajaran IPA Berbasis Produk di Masa Pandemi Covid-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *