Penulis: Nita Erlina, S.Pd. (Guru SD Negeri Randusari, Kec. Rowosari, Kab. Kendal)

Rendahnya kemampuan literasi menjadi salah satu permasalahan pendidikan di Indonesia. Salah satu faktor dari kemampuan literasi adalah kemampuan membaca. Kemampuan membaca juga menjadi salah satu dasar bagi siswa untuk mempelajari mata pelajaran lainnya. Pada kenyataannya, kemampuan membaca siswa di kelas rendah masih sangat kurang.
Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya kemampuan membaca permulaan pada siswa di kelas rendah. Pada materi membaca permulaan dengan tema kegiatanku sehari-hari, guru belum menggunakan media big book sehingga menyebabkan materi ini menjadi kurang menarik dan membosankan bagi siswa.
Guru hanya menggunakan gambar yang terdapat pada buku paket, tanpa menggunakan media pembelajaran yang menarik dan merangsang minat baca siswa. Sehingga proses pembelajaran menjadi kurang bermakna karena tidak memberikan pengalaman baru. Kondisi seperti ini menyebabkan minat baca siswa masih jauh dari harapan, dan berimbas pada kemampuan membaca siswa yang masih rendah.
Hal ini terjadi pada siswa kelas I SD Negeri Randusari, Kec. Rowosari, Kab. Kendal. Pada muatan pelajaran Bahasa Indonesia pada materi dengan tema kegiatanku sehari-hari, dari 15 siswa, hanya 40 % yang sudah mempunyai kemampuan membaca dengan cukup baik.
Untuk mengatasi masalah tersebut, guru berusaha mencari media pembelajaran yang tepat, dan memutuskan untuk menggunakan media pembelajaran yaitu big book. Secara umum, media pembelajaran merupakan salah satu cara atau alat bantu yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
Hermanto, dkk. mendefinisikan big book sebagai bahan bacaan yang berukuran besar dan berisi huruf dan gambar. Big book berisikan fitur khusus yang dikembangkan baik dalam bentuk teks maupun gambar yang bisa dimanfaatkan guru dan peserta didik dalam pembelajaran membaca secara kolaboratif. Membaca secara bersama-sama dapat memancing interaksi dan sesi tanya jawab antara guru dan peserta didik.
Hadiana dkk. menambahkan, Media big book membantu peserta didik dalam belajar membaca melalui menghafal dan mengulang apa yang mereka baca. Banyak ahli pendidikan mengatakan big book dapat digunakan dengan sangat sukses di kelas bawah karena mampu menumbuhkan minat baca peserta didik.
Dalam materi membaca permulaan dengan tema kegiatanku sehari-hari ini, guru menggunakan media pembelajaran berupa big book. Media belajar ini sangat berguna bagi guru untuk menumbuhkan minat baca siswa dalam pembelajaran. Sehingga proses belajar menjadi lebih berkesan dan bermakna. Dan yang lebih penting bisa memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi siswa.

Berikut langkah-langkah penggunaan media big book: Pertama; Siapkan big book sesuai materi atau tema yang hendak dipelajari. Kedua; Guru menunjukkan gambar-gambar berwarna yang menarik yang terdapat pada big book. Siswa mengamati dan memprediksi gambar-gambar tersebut. Ketiga; Guru membaca kata atau kalimat sesuai gambar pada big book dengan lafal dan intonasi yang benar dan tepat. Siswa menirukan dengan lafal dan intonasi yang benar dan tepat secara klasikal. Keempat; Guru membimbing siswa untuk membaca ulang kata dan kalimat yang telah dipelajari. Kelima; Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi bacaan yang terdapat dalam big book.
Dalam proses kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara klasikal tersebut, semua siswa mengikuti dengan semangat dan antusias. Mereka mengatakan bahwa belajar dengan media big book sangat menarik dan menyenangkan. Hal ini memberikan dampak positif pada tumbuhnya minat baca yang meningkat dibanding sebelumnya. Dari 15 siswa kelas I SD Negeri Randusari, Kec. Rowosari, Kab. Kendal, semua mencapai minat baca yang lebih meningkat.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis media big book mampu menumbuhkan minat membaca siswa kelas I SD, dengan indikator siswa mampu membaca kata dan kalimat pendek dengan lafal dan intonasi yang benar dan tepat, serta mampu mempraktekkan panjang pendeknya suara dalam melafalkan teks.
Membaca secara bersama-sama dapat memancing interaksi dan sesi tanya jawab antara guru dan peserta didik.