Penulis: Siti Kotijah, S.Pd (Guru SDN Darupono, Kec. Kaliwungu Selatan)
Pembelajaran di sekolah dasar saat ini membutuhkan peran tenaga pendidik yang kreatif dan inovatif dalam menyajikan pembelajaran, karena peserta didik yang dihadapi adalah generasi alpha dimana mereka sangat lekat dan dekat dengan teknologi.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat, membuat peserta didik banyak menghabiskan waktunya untuk bermain gawai daripada belajar. Peserta didik juga kurang mampu memaknai apa yang mereka pelajari baik belajar melalui gawai maupun melalui buku.
Peserta didik memerlukan bimbingan dalam belajar dan melakukan berbagai aktivitas yang mendukung untuk memaknai apa yang mereka pelajari. Hal ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna agar peserta didik tetap mampu memahami apa yang mereka pelajari dan kegiatan belajar tidak kalah menyenangkan dari bermain gawai ketika di rumah.
Salah satu upaya dalam mendukung untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mendesain pembelajaran agar lebih menarik, kreatif dan inovatif, maka Gugus Ki Hajar Dewantara Korwilcambidik Kecamatan Kaliwungu Selatan memfasilitasi kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk berbagi pengalaman mengajar melalui narasumber yang telah mendapatkan materi pada kegiatan Training Of Trainer (TOT) Pemandu Gugus.
Dalam kesempatan itu, pada pertemuan hari Senin tanggal 20 Maret 2023 bersama dengan narasumber yaitu ibu Anny Rahayu, S.Pd guru SDN 1 Magelung dan Siti Kotijah, S.Pd guru SDN Darupono secara bergantian mennyampaikan materi tentang pembelajaran aktif.
Salah satu tujuan penting pembelajaran adalah mengembangkan potensi peserta didik. Potensi peserta didik pada generasi alpha ini sangatlah beragam. Untuk mengembangkan potensinya, maka perlu mengenal dan memahami terlebih dahulu potensi yang dimiliki.
Potensi tersebut dapat dilihat pada berbagai aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. Pendekatan pembelajaran yang dapat melihat dan mengembangkan potensi tersebut antara lain ‘Pendekatan Belajar Aktif’ Pembelajaran aktif memiliki beberapa unsur, yaitu mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Empat unsur tersebut disingkat menjadi MIKiR. Setiap peserta didik harus bisa mengalami apa yang sedang dipelajari.
Mengalami dapat diartikan dengan melakukan kegiatan (doing). Salah satu kegiatan mengalami
adalah saat peserta didik melakukan pengamatan (observasi).
Selanjutnya yaitu Interaksi adalah proses pertukaran ‘gagasan’ antar dua orang atau lebih. Kegiatan ini dapat terlihat saat peserta didik melakukan diskusi.
Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan/pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain, salah satu contohnya yaitu saat peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas.
Kegiatan yang terakhir adalah Refleksi, yaitu proses memikirkan makna dari belajar yang dialami, baik yang terkait materi yang dipelajari maupun pengalaman belajar pada hari itu. Dalam proses pembelajaran aktif ini guru memiliki peran penting untuk memunculkan dan merespon apa yang dilakukan peserta didik dalam proses pembelajaran. guru dan peserta didik harus sama-sama berperan untuk mampu melaksanakan pembelajaran aktif yang bermakna.
Kegiatan pemberdayaan gugus melalui kegiatan KKG Gugus Ki Hajar Dewantara berlangsung dengan lancar, menarik dan interaktif yang melibatkan peserta kegiatan berkolaborasi secara kelompok dan melakukan presentasi.
Harapannya melalui kegiatan ini, dapat memacu semangat dan kreatifitas guru dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik menjadi lebih baik dengan menerapkan pembelajaran aktif MIKiR di kelasnya masing-masing.
Pembelajaran aktif MIKiR ini sejalan dengan perkembangan zaman, karakteristik siswa dan kurikulum merdeka saat ini. Semoga dengan adanya pemerdayaan gugus ini, bapak-ibu guru mampu menciptakan suasana belajar yang menarik, kreatif dan inovatif serta menjadikan peserta didik benar-benar memaknai pembelajaran dan mampu menggali potensi dirinya melalui berbagai tahapan proses MIKiR yang telah dilalui.
Peserta didik memerlukan bimbingan dalam belajar dan melakukan berbagai aktivitas yang mendukung untuk memaknai apa yang mereka pelajari. Hal ini menjadi tantangan bagi pendidik untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna agar peserta didik tetap mampu memahami apa yang mereka pelajari dan kegiatan belajar tidak kalah menyenangkan dari bermain gawai ketika di rumah.