BELAJAR BIOTEKNOLOGI RUMAHAN

Oleh. Dra. Irina Kurniati Lubis, M.Pd., Guru IPA SMP Negeri 2 Kendal

—————————————————————————————————————

Vaksin Covid-19 menjadi isu kuat saat terjadi pandemi seperti sekarang. Semua pihak berlomba untuk menemukan vaksin terbaik. Salah satu disiplin ilmu yang memainkan peran penting dan sangat erat adalah bioteknologi. Ihsan Tria Pramanda, Pengajar Fakultas Biotechnology, Indonesia International Institute for Life Science (i3L), menjelaskan bioteknologi merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari teknologi pemanfaatan makhluk hidup dalam skala besar untuk menghasilkan produk yang berguna bagi manusia (Tribunnews.com, 24 Agustus 2020).

Belajar dari pandemi dan melihat tantangan ke depan, siswa perlu disiapkan untuk memahami pentingnya cabang ilmu ini. Baik pengembangannya secara konvensional maupun modern. Mereka perlu belajar tentang bioteknologi agar mengetahui manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah mata pelajaran yang membahas ini adalah pada Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Belajar IPA khususnya bioteknologi perlu juga dikuatkan tentang keterampilan proses. Praktik membuat salah satu produk dengan pola MIKiR (mengalami, interaksi, komunikasi, refleksi) yang dikuatkan oleh PINTAR Tanoto Foundation bisa melandasi metode implemenatsinya. Siswa akan melakukan kegiatan menyediakan bahan baku sesuai yang direncanakan, berinteraksi dengan anggota keluarga, berkomunikasi/mengkomunikasikan dan terakhir akan merefleksi hasilnya.

Contohnya pada pembuatan tapai singkong/ketan. Mereka akan melakukan kegiatan membeli bahan baku (singkong/beras ketan, ragi tapai) memproses singkongb/beras ketan (dikukus/ditanak), didingingkan, diberi ragi (Saccharomices cerevieae), diperam 3 hari, dan menikmati hasilnya. Dengan praktik, siswa akan memahami bagaimana proses fermentasi yang melibatkan mikroorganisme (Saccharomyces cereviceae/ragi) hingga dapat menghasilkan jenis makanan baru. Dari kegiatan ini pula siswa dapat mengeksplorasi berbagai kemungkinan sehingga bisa menghasilkan jenis makanan baru lainnya.

Salah satu cara untuk mengasah keterampilan proses IPA dan belajar tentang bioteknologi sederhana di rumah, siswa dapat melakukan aktivitas seperti yang telah dilakukan oleh siswa kelas IX SMPN 2 Kendal. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu mengetahui peranan suatu makhluk hidup dalam membantu kehidupan manusia di kehidupan modern. Untuk mendukung pembelajaran jarak jauh bioteknologi konvensional menjadi pilihan awal untuk membantu pemahaman siswa terkait materi tersebut. Kegiatan ini juga akan mengasah keterampilan mereka dan belajar penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari. Cara ini akan merangsang kreasi mereka dari kejenuhan.

Sehari sebelum pembelajaran siswa terlebih dahulu diinformasikan agar membaca materi tersebut pada buku paket IPA Kelas IX dari Kemdikbud RI, atau sumber lain yang relevan agar esoknya pembelajaran dapat lebih interaktif dengan platform Office 365 (Microsoft Teams). Kajian ini mengarahkan siswa untuk berpikir tingkat tinggi, caranya diberikan pertanyaan bagaimana cara pemenuhan bahan pangan dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat pesat?

Pada hari H, kontrak belajar yang disepakati adalah siswa yang tidak aktif di kelas virtual sesuai kesepakatan dianggap tidak hadir. Trik ini menguatkan peran mereka untuk interaktif merespon masalah yang telah diinformasikan sebelumnya. Mereka menjelaskan apa tujuan mempelajari bioteknologi, praktik ujicoba bioteknologi yang telah dibuat guru, serta membahas tentang contoh-contoh produk bioteknologi konvensional dan modern. Siswa menjawab melalui chat pada Teams dan ada kalanya digunakan video untuk bertatap muka maya.

Dari hasil interaksi melalui Teams keingintahuan siswa semakin bertambah. Guru meresponnya dengan memberikan kegiatan berupa keterampilan proses terkait bioteknologi konvensional. Sebelum pembelajaran berakhir guru memberikan lembar kerja lanjutan yaitu penerapan bioteknologi sederhana di rumah berbahan dapur yang dapat dilakukan dengan anggota keluarganya.Siswa dapat memilih membuat salah satu produk yang dianggap paling mudah dalam mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan. Jangka waktu pengerjaanya adalah satu minggu.

Berbekal materi yang telah mereka dapatkan, mereka segera mengusulkan berbagai aktivitas yang akan mereka lakukan. Misalnya, Aura mengusulkan membuat Bakpau, Tsara Azzahra ingin membuat tapai berbahan singkong. Adapula Aleksa akan membuat yoghurt dan Faradina Utami membuat keju. Semua jenis olahan tersebut merupakan penerapan dari proses fermentasi.

Selang seminggu, semua siswa membuat laporan lengkap dengan waktu, langkah-langkah kerja, bahan-bahan yang diperlukan, dan juga produk akhir difoto kemudian diupload ke WAG kelas. Pada H-1 pertemuan, seperti biasa guru memberikan stimulus terkait produk yang sudah siswa buat dan akan didiskusikan pada pembelajaran esok harinya sehingga pembelajaran berjalan dengan aktif. Mereka memaparkan apa yang sudah mereka buat dari awal penyediaan bahan sampai hasil akhirnya.

Contoh pembuatan tapai berbahan singkong. Aura menceritakan dari awal membeli dan memilih singkong, mengupas kulitnya, mencuci, mengukus, mendinginkan, memberikan ragi dan memeramnya selama tiga hari. Singkong yang telah diberi ragi ditutup/dibungkus rapat dengan daun pisang agar tidak ada udara yang masuk dalam proses fermentasi tersebut. Terkait cita rasa mereka utarakan juga dan langsung memberikan alasan mengapa rasanya menjadi manis dan teksturnya jadi lembek berbeda dari bahan awal. Dengan demikian mereka akan lebih faham dengan proses  fermentasi yang dapat mengubah makanan satu menjadi jenis makanan lain (misalnya singkong menjadi tapai).

Keaktifan tampak sekali karena berbeda-beda dalam membuat produknya. Mereka dengan bangga menceritakan proses membuat sampai dengan produk akhirnya. Dalam refleksi siswa menceritakan pemahaman mereka tentang bagaimana peran bakteri dalam proses fermentasi pada bioteknologi konvensional. Siswa bangga bisa membuat produk sendiri yang dalam segi kesehatan lebih higienis dan lebih ekonomis. Prospeknya dapat dikembangkan untuk menambah pendapatan keluarga di masa pandemi.

*Artikel ini telah tayang di Koran Tribun Jateng tanggal 25 Februari 2021 halaman 9. Pada Kolom Guru Menulis Praktik Baik Kolaborasi Tanoto Foundation dan Tribun Jateng dengan judul Belajar Bioteknologi Rumahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *