Penulis: Redi Hermawan, S.Pd. (Guru SDN 2 Curugsewu, Kecamatan Patean)

Keterampilan mengajukan pertanyaan merupakan suatu hal yang harus dikuasai oleh guru untuk membangkitkan daya berpikir siswa saat belajar.
Ibarat kita akan menyalakan sebuah korek gas maka kita memerlukan suatu pemantik berupa percikan bunga api agar api pada korek tersebut bisa berkobar.
Pada kurikulum merdeka, siswa dipandang sebagai calon manusia sukses yang sudah membawa segudang pengetahuan dari rumah dan lingkungan sekitarnya.
Tugas guru adalah membimbing mereka untuk menggali pengetahuan yang telah mereka miliki agar menjadi sesuatu yang berguna bagi diri mereka sendiri dan masyarakat sekitar.
Salah satu cara untuk menggali pengetahuan mereka yaitu melalui pemberian pertanyaan pemantik kepada siswa.
Mengingat pentingnya keterampilan guru dalam menyusun pertanyaan pemantik tersebut maka pada hari Sabtu, 10 Juni 2023 kegiatan KKG di Gugus Moh. Hatta Korwilcam Biddik Kecamatan Patean mengangkat topik tersebut.
Acara dihadiri oleh semua guru kelas 1 sampai kelas 6 yang berjumlah sekitar 50 orang. Acara dimulai dari pukul 09.00 – 12.00 WIB bertempat di SDN 3 Curugsewu, Patean. Acara tersebut dibuka oleh Bapak Muridi selaku Ketua Gugus Moh. Hatta sekaligus Kepala SDN 3 Curugsewu.
Sebelum memulai kegiatan, untuk membangkitkan semangat para peserta KKG, Bu Wiwik selaku pemateri mengajak para peserta untuk menyanyi bersama lagu berjudul Potong Bebek Angsa tetapi dimodifikasi hanya dengan suara Wek, Wok, Wuk, Wak, Wik. Agar saat penyampaian materi berjalan efektif maka Bu Wiwik membagi peserta menjadi enam kelompok berdasarkan jenjang kelas yang diajarnya. Bu Wiwik menggunakan proyektor saat menyampaikan paparan materi. Saat tiba pada slide tertentu, Bu Wiwik membagikan media berupa dua buah jeruk, post it, kertas plano, dan seperangkat alat tulis.
Para peserta mendapatkan tugas untuk membuat dua pertanyaan berkaitan dengan buah jeruk tersebut pada kertas post it yang disediakan. Setelah selesai membuat pertanyaan, Bu Wiwik meminta para peserta menyimpan kertas jawabannya dan kembali memperhatikan penjelasan ke slide berikutnya. Dari penjelasan yang disampaikan, ternyata peserta diajarkan strategi penyusunan pertanyaan pemantik yang pertama yaitu pertanyaan harus produktif atau disingkat P.
Setelah mengetahui apa itu pertanyaan produktif, Bu Wiwik meminta peserta untuk melihat kembali pertanyaan tentang buah jeruk yang tadi sudah dibuat apakah termasuk kategori produktif atau nonproduktif.

Untuk menjelaskan strategi penyusunan pertanyaan pemantik yang kedua, Bu Wiwik meminta para peserta untuk mengamati sebuah gambar yang ditampilkan pada proyektor. Para peserta diberi tugas untuk membuat pertanyaan tentang gambar tersebut. Pak Andik salah satu peserta KKG menulis pertanyaan, “Di manakah wanita tersebut duduk?”.
Setelah para peserta menuliskan pertanyaan pada post it, Bu Wiwik kembali memerintahkan agar peserta menyimpan sementara jawaban yang telah ditulisnya dan meminta agar peserta fokus pada penjelasan selanjutnya. Dari penjelasan yang disampaikan, ternyata strategi penyusunan pertanyaan pemantik adalah pertanyaan harus imajinatif bukan faktual atau disingkat dengan huruf I.
Strategi penyusunan pertanyaan pemantik yang terakhir, Bu Wiwik jelaskan dengan mempertunjukkan sebuah gambar bangun datar persegi panjang dengan ukuran tertentu. Peserta diminta untuk membuat pertanyaan tentang gambar tersebut. Seperti kegiatan sebelumnya para peserta diminta menuliskan pertanyaannya pada post it.
Mendengarkan hasil presentasi dari perwakilan kelompok kelas 5, mereka menuliskan pertanyaan, “Berapa luas bangun datar tersebut?”. Bu Wiwik pun memberikan penjelasan jika sebuah pertanyaan pemantik haruslah bersifat terbuka tidak tertutup. “Jika pertanyaan yang dituliskan kelompok 5 masih bersifat tertutup, ya.”, kata Bu Wiwik memberikan komentar.

Dari rangkaian kegiatan tersebut maka Bu Wiwik menyimpulkan bahwa untuk membuat pertanyaan pemantik dapat menggunakan strategi PIT yaitu Produktif, Imajinatif, dan Terbuka. Penyampaian materi yang penuh dengan nuansa aktif sejak awal sampai akhir menjadikan peserta sangat antusias mengikuti kegiatan sampai selesai.
“Semoga kegiatan pemberdayaan gugus seperti ini dapat terus dilakukan agar kualitas pembelajaran di Kabupaten Kendal Khususnya di Kecamatan Patean dapat meningkat.”, ujar Pak Muridi pada acara penutupan kegiataan KKG.
Pada kurikulum merdeka, siswa dipandang sebagai calon manusia sukses yang sudah membawa segudang pengetahuan dari rumah dan lingkungan sekitarnya. Tugas guru adalah membimbing mereka untuk menggali pengetahuan yang telah mereka miliki agar menjadi sesuatu yang berguna bagi diri mereka sendiri dan masyarakat sekitar.