Mengenal lebih dekat Kurikulum Merdeka dengan Pertanyaan Pemantik

Novita Ika Hariyanti

Penulis: NOvita Ika Hariyanti (Guru SDN Podosari, Kec. Cepiring/ Guru Penggerak Angkatan V)

Tak kenal maka tak sayang, itulah pepatah yang mengena di hati guru-guru di Gugus Syilendra.  Memang benar apabila kita tidak mengenal sesuatu maka tidak mungkin kita memperhatikan sesuatu itu.

Dampak dari kegiatan pemberdayaan gugus melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) gugus Syailendra Kecamatan Cepiring  yang dipandu oleh beberapa Narasumber di kegiatan pengimbasan Training Of Trainer (TOT)  tentang pembelajaran aktif ternyata mampu membuat para guru mengenal lebih dekat dengan kurikulum merdeka.

Pelatihan di Gugus Syailendra

Kurikulum Merdeka awalnya tak kami hiraukan, bukan karena sebagian besar dari kami masih kurikulum tigabelas, tetapi karena minimnya pengetahuan kami tentang kurikulum merdeka.

Definisi Kurikulum  Merdeka  adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi (Kemdikbud, 2022).

Definisi ini masih memberikan gambaran yang abstrak sehingga para guru masih bingung apa yang harus di lakukannya. Setelah mengikuti pengimbasan pertama yaitu tentang konsep pembelajaran aktif dengan MIKIR (Mengalamai-Interaktif-Komunikasi- Refleksi), lalu mempelajari karakteristik mapel. 

Terlihat mereka, para guru yang ada di gugus Syailendra menjadi lebih penasaran dalam menyambut kurikulum Merdeka. Mereka menyadari bahwa kurikulum baru ini akan  mampu mengembangkan kemampuan dan kreativitas tenaga pendidik maupun peserta didik.

Minggu  ini Gugus Syailendra  mengenal frase baru dalam Kurikulum Merdeka yaitu Pertanyaan Pemantik. Terlihat guru-guru sangat antusias menyimak materi tersebut. Banyak guru awalnya membuat pertanyaan hanya untuk mengulang gagasan guru daripada memproduksi gagasan siswa sendiri, kali ini mereka mendapat materi baru  yaitu pertanyaan pemantik yang membuat mereka tertarik untuk mempelajarinya.

Pertanyaan pemantik yang benar adalah  pertanyaan yang digunakan untuk membangkitkan atau mengarahkan siswa pada proses belajar secara aktif melalui kegiatan pengamatan, eksplorasi, penyelidikan, penemuan, atau pemecahan masalah.

Kegiatan penyelidikan bisa ditujukan untuk menggali sebab maupun akibat dari suatu fenomena. Beberapa penciri dari pertanyaan pemantik adalah ‘provokatif’, terbuka (open-ended), berpusat pada topik (discipline-centered), dan menantang. Lalu seperti apa pertanyaan pemantik menurut para narasumber pengimbasan pembelajaran Aktif di Gugus Syailendra?

Kegiatan Penyelidikan Oleh Peserta Pelatihan

Ada beberapa tipe pada Pertanyaan pemantik yang diajarkan, yaitu 1) Pertanyaan Produktif; 2) Pertanyaan Imajinatif; dan 3) Pertananyaan Terbuka. Tipe pertanyaan pemantik ini dikenal dengan akronim  PIT (Produktif-Imajinatif-Terbuka).

Pertanyan Produktif adalah pertanyaan yang mampu mendorong siswa melakukan pengamatan, percobaan, dan/atau penyelidikan (eksplorasi). Jadi Pertanyaan Produkstif bukan sekedar hasil menyalin dari buku atau menuliskan kembali apa yang dijelaskan guru.

Dalam kegiatan pengimbasan materi Pertanyaan Pemantik ini, guru-guru mencoba berlatih membuat pertanyaan Produktif dan tidak produktif dengan bantuan benda kongkrit berupa jeruk dan salak. Setiap guru menulisakan 2 kalimat pertanyaan yang ada kaitannya dengan jeruk atau salak. Setelah itu mereka diminta memeriksa soal yang mereka buat. Kemudian mereka memilah mana pertanyaan produktif dan tidak produktif lalu menempelkan pada kertas Plano.

Pertanyaan Imajinatif ialah pertanyaan yang memerlukan daya imajinatif.  Siswa diharapkan dapat menemukan ide-ide dari kreatifitas pemikirannya. Sedangkan pertanyaan yang jawabannya ada pada gambar  atau tidak membutuhkan kreatifitas untuk menemukan jawabannya disebut pertanyaan Faktual.

Pada kegiatan pengimbasan narasumber menyajikan gambar yang dapat menjadi sumber media untuk pembuata soal Imajinatif. Di sini peserta pengimbasan disajikan sebuah gambar yang haris diamati, setelah itu menuliskan 2 soal pada potongan  kertas yang disediakan. Setelah selesai, narasumber meminta beberapa peserta untuk membacakan soal yang telah dibuat.

Narasumber mengajak peserta untuk menyimak beberapa contoh soal yang telah dibacakan. Dengan membimbing mereka untuk mampu memilah sendiri  soal yang mereka buat, termasuk imajinatif atau factual.

Pertanyaan Terbuka dan  Tertutub, pertanyaan terbuka  menstimulus siswa berfikir alternatif dan kreatif karena pertanyaannya memang memungkinkan jawaban benar lebih dari satu. Peserta pengimbasan mengamati gambar  dan seperti kegiatan sebelumnya mereka menuliskan soal sesuai gambar tersebut.

Kegiatan tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, dengan berakhir peserta mampu membedakan sendiri mana pertanyaan terbuka dan tertutub.

Materi ini ternyata mampu membuat para guru asyik dengan kelompoknya melakukan  kegiatan merumuskan soal lalu memilahnya dan menempelkan di kertas plano. Setelah selesai masing  kelompok menukarkan hasil kerjanya dan saling mengoreksi dan mengomentari. Kegiatan akhir mereka melakukan refleksi, beberapa wakil dari kelompok  memberikan umpan balik secara lisan.

Semoga kegiatan pemberdayaan gugus, melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) gugus Syailendra Kecamatan Cepiring  yang dipandu oleh beberapa Narasumber di kegiatan pengimbasan Training Of Trainer (TOT)  tentang pembelajaran aktif semakin menambah kemantapan para guru untuk melaksanakan pembelajaran dengan kurikulum merdeka.

Materi ini ternyata mampu membuat para guru asyik dengan kelompoknya melakukan  kegiatan merumuskan soal lalu memilahnya dan menempelkan di kertas plano. Setelah selesai masing  kelompok menukarkan hasil kerjanya dan saling mengoreksi dan mengomentari. Kegiatan akhir mereka melakukan refleksi, beberapa wakil dari kelompok  memberikan umpan balik secara lisan.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu pemikiran di “Mengenal lebih dekat Kurikulum Merdeka dengan Pertanyaan Pemantik”