Tiga Ide Keren dan Mudah Belajar di Rumah ini Perlu Dicoba

Siswa SDN 1 Brangsong sedang mengamati organ gerak kura-kura dalam pembelajaran yang mengaitkan hobi

Oleh: Zayyinul Firdaus, Guru SDN 1 Brangsong, Wiwi Sukmawati, S.Pd, guru kelas VI SD Negeri 1 Montongsari Kecamatan Weleri & Lailatul Qodriyah, S.Pd.SD.

————————————————————————————————————

Tidak mudah membangun situasi mental siswa untuk mau dan mampu menyelesaikan masalah dalam Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Banyak orangtua justru jadi berantem gara-gara gagal menciptakan situasi  didaktis  tersebut. Oleh karena itu, guru sebagai  pengembang pembelajaran perlu menyusun situasi belajar yang menyenangkan dan  mudah untuk dilaksanakan.

Nah, berikut ini beberapa solusi bagi guru berkolaborasi dengan orangtua agar siswa dapat menyelesaikan tugas dengan senang dan bermakna.

Hoby sebagai sumber belajar

Salah satu bentuk kolaborasi tersebut yaitu dengan mengemas pembelajaran di rumah menjadi menarik dan menyenangkan. Guru dan orangtua memanfaatkan permainan atau hobi  kekinian yang sedang digemari siswa. Upaya ini dilakukan agar siswa dengan senang hati mengikuti setiap proses pembelajaran yang dilakukan tanpa penolakan atau terbayang-bayang dengan kejenuhan PJJ. Hobi siswa selain menjadi sumber belajar, juga sangat berguna dalam membangun kualitas hubungan dalam segitiga didaktis. Yaitu keterkaitan erat Guru-Siswa-Materi yang membentuk hubungan didaktis antara siswa dengan materi, serta hubungn pedagogis antara guru dengan siswanya.

Langkah pembelajaran ini dilakukan oleh Zayyinul Firdaus, S.Pd guru SDN 1 Brangsong, Kendal. Pak Firdaus yang sebelumnya telah melakukan survei tentang hobi siswa-siswanya memilih untuk belajar dengan mengamati binatang peliharaan. Hal ini dilakukan karena hampir semua siswa memiliki dan berhobi memelihara binatang di rumah.

Guru mengawali pembelajaran kelas V Tema 1 Subtema 1 muatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi Organ Gerak Hewan. Pertama, guru menyiapkan LKPD yang akan memandu siswa dalam mengamati hewan peliharaan, serta mengidentifikasi alat gerak hewan yang dimilikinya.

Untuk menyajikan kegiatan tersebut guru mengkombinasikan berbagai media sebagai sarana pembelajaran melalui proses MIKiR dalam skenario pembelajaran. Apersepsi dilakukan dengan menayangkan video hewan yang sedang bergerak. Setelah itu, ia memberikan pertanyaan “Berdasarkan video tersebut bisakah kalian menemukan perbedaan cara bergerak hewan yang satu dengan yang lainnya?” Langkah selanjutnya, berbekal LKPD, siswa melakukan pengamatan alat gerak hewan dari hewan peliharaan yang mereka miliki atau hewan yang ada di sekitar rumah.

Membuat eksperimen dari bahan sekitar rumah

Hal utama yang perlu dilakukan guru saat belajar di rumah adalah membuat siswa melihat sebenarnya apa yang guru ajarkan, belajar tentang apa, tujuannya apa, dan bagaimana cara belajar.  Tugas guru adalah membantu siswa terbebas dari hambatan dalam belajar. Seperti yang sudah dilakukan oleh Wiwi Sukmawati, S.Pd, guru kelas VI SD Negeri 1 Montongsari Kecamatan Weleri. Dia memberikan pemahaman kepada siswanya tentang sumber energi alternatif dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di lingkungan sekitar

Salah satu bahan utama dalam pembelajaran tentang sumber energi alternatif itu adalah kentang. Selain mudah didapat, kentang memiliki asam yang membentuk reaksi dengan seng dan tembaga. Sehingga ketika elektron mengalir dari satu bahan ke bahan lainnya akan melepaskan energi listrik.

Seperti yang sudah dilakukan Nadin Zakira muridnya. Setelah menerima LKPD, pada malam harinya Nadin menyiapkan bahan-bahan yaitu: 4 buah kentang, 4 koin yang berwarna kuning, 4 koin yang berwarna perak, penjepit buaya, dan lampu LED berukuran kecil.

“Dua buah koin yang berbeda ditancapkan pada satu kentang, begitu juga dilakukan untuk kentang yang lain. Setelah itu hubungkan secara seri dengan penjepit buaya. Jepit warna hitam dijepitkan pada koin yang berwarna  perak, dan jepit yang berwarna merah dijepitkan pada koin  berwarna kuning. Selanjutnya sambungkan lampu LED dengan koin yang berwarna kuning dan berwarna perak sebagai kutub positif dan negatif. Dan akhirnya lampu akan nyala,” jelasnya dalam video yang diungkapkan oleh Bu Sukma.

Ada beberapa siswa yang memanfaatkan jeruk lemon dan  buah rambutan. Ada pula yang menggunakan kentang yang direbus terlebih dahulu. Mereka menggunakan bahan utama yang ada dan mudah untuk didapat. Para siswa sangat bangga dengan hasil praktik yang telah dibuatnya.

Gunakan mainan anak-anak untuk belajar

Disadari atau tidak, lamanya durasi waktu belajar dari rumah tersebut mempengaruhi psikologis siswa. Untuk menjaga psikologis siswa agar tetap mau dan bersemangat belajar, Lailatul Qodriyah, S.Pd.SD, guru SDN Kawunganten Lor 02, Cilacap memadukan pembelajaran dengan permainan sederhana.

Permainan yang dipakai oleh Bu Laila adalah balok susun/ lego. Mainan ini merupakan salah satu alat permainan yang digemari oleh banyak anak, tak terkecuali siswanya. Karena itu dia mengajak siswa kelas VI belajar volume balok dengan bermain susun lego satuan.

Pembelajaran dimulai dengan memperkenalkan unsur-unsur bangun ruang balok seperti sisi, rusuk, serta titik sudut melalui zoom meeting. Guru juga mengenalkan bahwa balok mempunyai volume/isi. Untuk memahami volume balok guru mengajak siswa bermain lego. Langkah-langkah permainan dipandu menggunakan LKPD.

Sebelum pembelajaran dimulai, siswa dibentuk menjadi kelompok kecil beranggotakan 2-3 siswa yang rumahnya saling berdekatan. Ketua kelompok mengambil LKPD dan satu paket lego satuan yang telah disediakan oleh guru di sekolah. Lego disediakan guru karena tidak semua siswa mempunyai lego dan kebetulan dirinya punya koleksi lego yang banyak.

Langkah pertama, siswa diminta menyusun sebuah balok menggunakan lego dengan ukuran penjang, lebar, dan tinggi yang bervariasi. Kemudian siswa menyimpulkan berapa banyak lego satuan yang diperlukan untuk membuat balok tersebut.

Setelah itu, siswa diminta menyusun balok menggunakan lego sebanyak lego satuan yang ditentukan oleh guru. Misalnya, siswa diminta menyusun balok dengan menggunakan 36 lego satuan. Lalu siswa menentukan berapa saja ukuran panjang, lebar, dan tinggi balok yang bisa disusun menggunakan 36 lego satuan. Ternyata siswa menemukan ukuran panjang, lebar, dan tinggi yang bervariasi meskipun sama-sama mengunakan 36 lego satuan untuk membuat balok tersebut.

Terakhir, siswa diminta menyimpulkan rumus volume balok berdasarkan hasil percobaan melalui permainan susun lego. Setelah siswa memahami volume balok dengan lego satuan, guru mengarahkan siswa untuk memahami volume balok menggunakan satuan baku. Guru meminta siswa mengukur panjang, lebar, dan tinggi kotak bekas berbentuk balok menggunakan penggaris dengan satuan cm.

*Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com tanggal 5 Februari 2021 dengan judul Tiga Ide Keren dan Mudah Belajar di Rumah ini Perlu Dicoba dengan link https://jateng.tribunnews.com/2021/02/05/tiga-ide-keren-dan-mudah-belajar-di-rumah-ini-perlu-dicoba

1 thought on “Tiga Ide Keren dan Mudah Belajar di Rumah ini Perlu Dicoba”

  1. Betul-betul kreatif dan inovatif Bapak dan Ibu guru dalam melaksanakan pembelajaran nya. Tidak kalah penting lagi alat peraganya murah dan disenangi peserta didik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *