Oleh Alfiyah, S.Pd.SD Guru SDN 3 Curugsewu, Patean, Kendal dan fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation
————————————————————————————————————–
Kendal – Belajar dari rumah (BDR) melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Pembelajarannya menarik, kreatif, dan efektif tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. BDR dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup seperti keterampilan sehari-hari di rumah dan perilaku hidup pada masa pandemi covid-19.
Beberapa masalah yang sering muncul diantaranya, PJJ berupa penugasan membuat siswa jenuh dan malas belajar. Penyampaian materi dari guru yang tidak lengkap membingungkan orangtua dalam membimbing putra-putrinya di rumah. Sumber belajar yang terbatas membuat siswa sulit memahami pelajaran.
Kenyataan tersebut menuntut guru lebih inovatif dalam menyampaikan pembelajaran daring terutama dalam hal menentukan sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar menjadi pilihan untuk memudahkan belajar, meningkatkan pemahaman, dan memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pembelajaran menjadi jauh lebih bermakna.
Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar akan memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang kekayaan dan keragaman alam serta sosial. Mereka bisa langsung bereksplorasi, berinteraksi, bahkan berkreasi dengan memanfaatkan sumber belajar di sekitarnya.
Satu contoh nyata BDR yang memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar adalah PJJ di kelas V SDN 3 Curugsewu Kecamatan Patean, Kendal. Siswa belajar membuat ecoprint. Tujuan belajar yang ingin dicapai yaitu siswa mampu mengenali dan memanfaatkan daun, bunga dan berbagi tumbuhan di lingkungan sekitar untuk belajar keterampilan baru (ecoprint) yang bermanfaat untuk dirinya.
Ecoprint adalah teknik memberi pola pada kain dengan menggunakan daun, bunga, ranting, dan pewarna alam. Selain kegiatannya sangat menarik, ecoprint juga bisa mengembangkan daya imajinasi, kreativitas, sekaligus entrepreneurship siswa.
Langkah pertama, guru mengirimkan gambar tanaman yang tumbuh di sekitar rumah. Untuk menggali pengetahuan, guru meminta siswa untuk urun pengalaman lewat WhatApp Grup (WAG) tentang gambar yang dilihatnya. Selanjutnya, guru menggali pengetahuan tentang pemanfaatan tanaman yang ada di sekitar untuk kebutuhan hidup dan kepentingan manusia. Pada kegiatan ini siswa mencari tahu berbagai jenis tanaman dan bunga di sekitar rumah. Eksplorasi berbagai tanaman ini melibatkan kolaborasi dengan orangtua dan saudara.
Guru memulai diskusi dengan menggunakan pertanyaan terbuka untuk menggali potensi siswa diantaranya ”Apa yang akan kalian lakukan agar bunga dan daun dapat dimanfaatkan menjadi barang yang bernilai ekonomi?”.
Langkah kedua, setelah siswa memahami jenis-jenis tumbuhan dan bunga di sekitar rumah, guru selanjutnya mengajak mereka mengerjakan proyek membuat corak atau motif pada kain polos menggunakan dedaunan, bunga, dan ranting dengan celupan pewarna alami. Alat dan bahan untuk membuat ecoprint antara lain kain polos, plastik transparan, bunga, dedaun, ranting, pewarna alami, tali, dan palu. Persiapan alat dan bahan diinformasikan dua hari sebelumnya.
Untuk memandu aktivitas belajar, guru memberikan lembar kerja siswa (LKPD) dan panduan video pembuatan ecoprint yang dikirimkan lewat WAG. Sebelum melakukan aktivitas, guru memastikan mereka paham dengan cara berdiskusi melaui WAG baik lewat chat, maupun suara. Setelah itu, berbantuan LKPD yang diberikan guru inilah, mereka berkreasi membuat ecoprint dari berbagai daun dan bunga di sekitar rumah.
Langkah ketiga, siswa membuat laporan pembuatan ecoprint yang menjelaskan alat bahan yang digunakan lengkap dengan langkah pembuatan dan tujuannya. Pada bagian akhir laporan siswa menuliskan perasaannya setelah mengikuti pelajaran dan manfaat yang diperoleh dari pembelajaran.
Siswa juga mengirimkan foto dan video hasil ecoprint beserta laporannya. Dalam sesi ini siswa lain juga mengomentari. Saat inilah terjadi komunikasi antara guru dengan siswa dan antar siswa.
Langkah terakhir adalah refleksi. Mereka menyampaikan hal yang menyenangkan dan kendala yang dihadapi saat proses pembuatan ecoprint. Guru juga memberikan penguatan tentang manfaat produk ecoprint dan rangkaian kegiatan ekonomi dari proses pembuatan ecoprint hingga sampai di tangan konsumen. Sebagai tindak lanjut mereka diberi tugas merancang ecoprint untuk benda yang bisa dipakai.
Pembelajaran yang menghasilkan karya seperti ecoprint mampu menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa. Saat ditanya tentang pembelajaran ini, semua siswa mengatakan senang dan mendapat manfaat. Selain itu mereka bisa berkreasi bersama keluarga untuk memberikan warna pada kaos, taplak meja di dapur, dan pernak-pernik di rumah.
Dengan bantuan benda-benda yang ada di sekitar, perbendaharaan kosa kata siswa juga meningkat. Terbukti pada saat presentasi, mereka mampu menjelaskan cara membuat ecoprint secara runtut dan jelas dengan istilah-istilah baru.
——————————————————————————————————————
*Artikel ini telah tayang di Koran Radar Pekalongan tanggal 23 Oktober 2020 halaman 5. Pada Kolom Opini Guru Hebat dan Inovatif Kolaborasi Tanoto Foundation dan Radar Pekalongan dengan judul Ecoprint: Belajar Bermakna dengan Daun dan Bunga di Sekitar Rumah.