Oleh Normalia Eka Pratiwi, S.Pd Guru SDN 1 Karangsari Kendal, dan Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.
——————————————————————————————————-
Kendal – Tatanan kehidupan berubah drastis sejak mewabah pandemi covid 19 dimulai awal tahun 2020 ini. Dunia pendidikan pun tak luput terkena dampak. Pembelajaran tatap muka di sekolah terhenti seketika, siswa pun terpaksa belajar dari rumah.
Belajar dari rumah (BDR) digaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di awal tahun ajaran 2020/2021. Melalui SE Kemendikbud No. 15 tahun 2020 pemerintah menghimbau semua sekolah di zona orange dan merah tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka melainkan belajar dari rumah.
Untuk memudahkan guru dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh Kemendikbud menerbitkan panduan pembelajaran jarak jauh bagi guru. Point penting dalam panduan tersebut antara lain adalah terjaminnya kesehatan bagi guru dan siswa, pembelajaran tidak harus tuntas kurikulum, dan guru fokus pada pembelajaran literasi dan numerasi.
Kompetensi literasi sangat penting bagi anak-anak Indonesia. Dengan kompetensi literasi, mereka akan mampu bersaing dengan anak-anak yang ada di negara lain. Mereka pun akan mampu mengusai ilmu, teknologi, dan seni yang mutakhir, menyongsong tantangan global yang semakin kompetitif dan menantang. Maka dari itu, walaupun anak-anak belajar dari rumah, literasi harus tetap digalakkan.
Beragam cara dapat dilakukan untuk mendorong kompetensi literasi bagi siswa. Salah satunya melalui kegemaran membaca, baik buku, koran, majalah, atau bahan bacaan lain. Kegemaran membaca pada siswa secara otomatis akan merangsang kompetensi literasi mereka tumbuh dan berkembang. Karena, melalui aktivitas membaca, otak akan terbiasa berpikir analisis, sintesis, dan evaluatif. Membaca juga mampu membangkitkan kreativitas dan imajinasi selain menambah ilmu pengetahuan.
Kegiatan literasi menjadi pembiasaan di sekolah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Salah satu kegiatannya adalah membaca buku non mata pelajaran 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Namun, adanya pandemi pembiasaan literasipun mengalami banyak kendala dan hambatan.
Misalnya, Nayra, (10 th) siswa kelas VI SDN 1 Karangsari, Kendal mengatakan bahwa dia hanya memiliki satu buku cerita di rumah, setelah dibaca dua kali sudah paham ceritanya dan tidak tertarik untuk membacanya kembali. Sedangkan, Siti (42 th) orangtua dari Aeni (10 th) menuturkan bahwa ia pagi-pagi sudah berangkat kerja sehingga tidak dapat memantau kegiatan membaca anaknya, Buku bacaan yang dimilikipun hanya satu, yaitu buku dongeng nusantara.
Dari keterangan tersebut dan hal tersebut lazim terjadi di lingkungan pendidikan dan keluarga kita, dapat disimpulkan bahwa kendala kegiatan literasi di era BDR ini adalah ketersediaan buku cerita yang dimiliki anak-anak di rumah, dan kurangnya pantauan dari orangtua maupun guru.
Kendala tersebut tidak menyurutkan guru kelas VI SDN 1 Karangsari, Kendal untuk menerapkan pembiasaan literasi yang sudah menjadi pembiasaan di sekolah. Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan dan kecakapan dalam mencari informasi mengunakan media digital. Dalam hal ini adalah web tool Story Jumper.
Menurut Bahar, (2019) Story Jumper adalah salah satu web tool yang dapat digunakan siswa maupun guru untuk membuat dan menerbitkan buku cerita mereka masing-masing. Tools ini dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa. Penggunaannya cukup mudah dan sederhana serta memiliki banyak fitur gambar, teks, dan audio. Siswa akan lebih menjadi tertarik untuk membaca. Membuat dan mencari cerita di Story Jumper cukup mudah. Siswa hanya perlu masuk menggunakan email. Story Jumper juga terintegrasi dengan google classroom, sehingga mudah mengelola kelasnya.
Kreativitas guru dibutuhkan disini bila ingin mendapatkan pengalaman lebih dalam penggunaan media ini. Misalnya kelas dimulai dengan guru membagikan link Story Jumper di Whatsapp group. Satu link Story Jumper dapat digunakan siswa membaca cerita selama satu minggu. Setiap pagi sebelum mulai belajar, siswa membaca cerita di story jumper. Selain membaca, di Story Jumper juga siswa bisa menggunakan audio untuk mendengarkan cerita. Gambar yang menarik dan bersuara membuat anak-anak senang membaca di story jumper.
Di SDN 1 Karangsari guru telah membuat buku digital dengan media ini. Siswa bisa diajak untuk berkreasi dan memainkannya. Setiap hari setelah membaca, anak-anak menuliskan di jurnal baca. Yaitu catatan singkat perihal kegiatan membaca siswa. Dalam jurnal baca ditulis judul dan halamannya.
Pada akhir pekan, siswa menuliskan kembali cerita yang telah dibaca dengan menggunakan bahasanya sendiri di buku tulis. Selain itu siswa juga melanjutkan cerita berdasarkan imajinasinya. Untuk menambah kepercayaan diri setelah menuliskan cerita, siswa diminta membuat video sedang bercerita dihadapan orangtuanya.
Hasil dari kegiatan rutin ini siswa semua siswa di kelas telah memiliki jurnal dan ragam produk lanjutan dari kegiatan menggunakan story jumper yang telah diintegerasikan dalam tema dan pembelajaran sehari-hari.
Dari kegiatan literasi mengunakan Story Jumper secara berkala, siswa diharapkan tidak lagi sekedar membaca cerita dan melanjutkan ceritanya saja tetapi dapat menulis cerita di story jumper. Dengan ini keterbatasan buku yang dimiliki dan kebosanan siswa terhadap kegiatan membaca bisa diatasi Siswa pun mendapat banyak manfaat dari kegiatan literasi yang menyenangkan.
—————————————————————————————————————
*Artikel ini telah tayang di Koran Radar Pekalongan tanggal 2 November 2020 halaman 5. Pada Kolom Opini Guru Hebat dan Inovatif Kolaborasi Tanoto Foundation dan Radar Pekalongan dengan judul Menjadi Peneliti Kecil Perkembangbiakan Tumbuhan Teknik Stek di Rumah.