PEMIKIRAN-PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

Dwi Kartika Rahmawati, S.Pd.*

Saya percaya tentang kemampuan dan keunikan yang terdapat pada diri anak didik saya. Keunikan dan kemampuan yang sangat variasi, yang tidak bisa dipaksakan oleh siapapun untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh guru. Sebelum saya mempelajari modul 1.1 mengenai Filosofi Ki Hajar Dewantara, saya bersikukuh bisa mendidik sesuai dengan keinginan saya dan yang menurut saya baik untuk kedepannya.

Meskipun itu tidak disukai dan diminati oleh anak didik saya, tetapi jika menurut saya baik, maka akan saya paksakan supaya anak senang dengan pilihan saya. Di kelas, saya sudah melakukan pembelajaran dengan cara berkelompok. Saya berusaha melakukan pembelajaran yang menyenangkan untuk semua anak didik, baik yang suka dengan mata pelajaran matematika maupun yang kurang suka dengan mata pelajaran matematika. Harapan saya dengan pembelajaran yang menyenangkan, bisa membuat siswa menjadi suka dengan pelajaran matematika. Sehingga mata pelajaran matematika bisa menjadi salah satu mata pelajaran yang dinanti-nantikan. Tetapi keinginan saya belum bisa menjadi kenyataan, karena ternyata tidak semua siswa bisa menyukai pelajaran matematika. Dengan berbagai macam alasan yang terkadang materi tertentu siswa bisa memahami dengan mudah, akan tetapi pada materi tertentu juga siswa merasa kesulitan untuk memahami terutama jika dikaitkan dengan kontekstual.

Disinlah saya menyadari jika anak didik tidak bisa dipaksakan untuk sesuai dengan keinginan kita. saya sebagai guru hanya bisa mendampingi, memfasilitasi, membimbing, dan mengarahkan anak didik kearah yang sebenarnya dengan tujuan tercapainya manusia seutuhnya. Sebelum mempelajri filosofi Ki Hajar Dewantara, di pembelajaran saya sudah saya terapkan untuk nilai-nilai rohani (membaca doa sebelum dan sesudah pelajaran, membaca asmaul husna, sholat berjamaah), gotong royong (belajar kelompok), mandiri (mengerjakan Penilaian Harian). Akan tetapi di pembelajaran saya belum mengaitkan ke kebuyaan daerah yang ada.

Pemikiran atau perilaku saya yang berubah setelah mempelajari Filosofi Ki Hajar Dewantara adalah pemikiran dan pemahaman saya tentang keanekaragaman kemampuan siswa. Dimana keberagaman tersebut bukan dan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bisa meningkatkan pembelajaran, akan tetapi keberagaman tersebut harus bisa kita jadikan keunikan setiap anak didik yang bisa dikembangkan menjadi kualitas anak untuk meraih masa depan yang lebih baik. Kebuyaaan daerah memiliki nilai-nilai luhur yang harus tetap kita lestarikan. Nilai-nilai tersebut bisa di terapkan dalam pembelajaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Mendidik siswa harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Kodrat alam artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat dan karakternya masing-masing. Sehingga guru tidak dapat merubah dan menghapus sifat dasar tadi. Guru hanya bisa membimbing, memfasilitasi dan mengarahkan kearah yang sebenarnya. Kodrat zaman artinya bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya, agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuikan diri dengan lingkungannya. Budi pekerti harus ditumbuhkan dalam diri anak. Keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan social dan karakter baik, bagi seorang anak. Pembelajaran harus berpusat kepada siswa dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Yang harus segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah pembelajaran berorientasi kepada siswa.

Bentuk pembelajaran yang bisa mengembangkan keaktifan siswa, pembelajaran yang bisa menggali dan mempertebal kemampuan siswa. dengan pembelajaran tersebut, guru sebagai fasilitator bisa membimbing dan mengarahkan potensi anak yang sudah ada kearah yang benar. Sesuai dengan profil pelajar pancasila, yaitu Beriman dan bertaqwa kepada TYE dan berakhlak mulia, setiap pagi selalu membaca Asmaul Husna dan Sholat berjamaah. Berkebhinekaan Global maksudnya guru membimbing supaya siswa bisa saling menghargai perbedaan yag ada. Gotong royong bisa diperlihatkan pada saat siswa melakukan kerja kelompok. Siswa bisa lebih kreatif dalam memecahkan suatu masalah, Siswa lebih mandiri dalam mengerjakan tugas-tugas yang ada pada saat Penilaian Harian, PTS dan PAS. Selain itu pembelajaran juga berbasis IT dengan model pembelajaran berbasis Android atau video pembelajaran interaktif.

*Guru SMPN 3 Kaliwungu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.