Melatih Cara Berfikir Ilmiah Siswa dengan Menjadi Peneliti Hewan

Oleh. Muji Kuwati, guru SDN 1 Kalilumpang, Kecamatan Patean, Sekolah Mitra PINTAR Tanoto Foundation.

————————————————————————————————————

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam masa pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Salah satunya karena pembelajaran harus disusun secara bermakna dan menyatukan fakta- fakta yang ada dengan struktur kognitif yang telah melekat pada siswa dan lingkungannya. Pembelajaran IPA tradisional lebih menekankan pada penyampaian informasi dan melakukan verifikasi (pembuktian) konsep/hukum/teori melalui pengamatan. Sehingga lebih membuat siswa menjadi “konsumen” daripada “produsen” ilmu pengetahuan.

Pembelajaran IPA seharusnya sama dengan bagaimana IPA itu ditemukan. (Teach Science as Science is Done – Lawson). Perlu penguatan penerapan metode sains yang mengembangkan keterampilan proses sains dalam pembelajaran.

Menurut Dahar (1996), keterampilan proses sains (KPS) adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai bekal dalam menggunakan metode ilmiah dalam mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki maupun untuk memperoleh pengetahuan baru. Keterampilan proses ini meliputi mengamati, mengklasifikasi, mengukur, memprediksi, menginferensi, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep,  dan mengkomunikasikan.

Dalam praktiknya di sekolah dasar, keterampilan di atas dapat disederhanakan dalam langkah-langkah pembelajaran aktif dengan kegiatan mulai dari mengamati, interaksi, komunikasi, dan refleksi (MIKiR) yang dikuatkan program PINTAR Tanoto Foundation. Tujuannya untuk memberikan wawasan dan pengetahuan tentang konsep alam yang berguna untuk kehidupan sehari-hari, menumbuhkembangkan kesadaran dalam menjaga dan melestarikan alam, serta melatih siswa berpikir ilmiah dan kritis. 

Salah satu praktiknya yaitu pembelajaran lingkungan alam sekitar tentang hewan ataupun tumbuhan di kelas VI SDN 1 Kalilumpang, Kecamatan Patean. Pembelajaran dilaksanakan secara daring menggunakan aplikasi WhatsApps dan luring dengan tatap muka terbatas karena kondisi yang tidak memadai terutama keterbatasan akses internet dan letak desa Kalilumpang yang jauh dari keramaian, berada di tengah perkebunan karet.

Sebelum pembelajaran inti dimulai, guru mengkondisikan siswa melalui Whatsapp grup untuk memahami tujuan pembelajaran, yaitu: 1) menjelaskan dan membandingkan cara hewan menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan 2) membuat laporan sederhana tentang cara hewan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Langkah pertama diawali guru dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan penting dan mendasar, seperti: “Apa saja hewan yang ada di lingkungan sekitar kalian?” “Bagaimana perbedaan antara satu hewan dengan hewan lain yang kalian sebutkan tadi?” Siswa menjawab melaui WAG. Hal ini bertujuan untuk memberi stimulus agar siswa tertarik sekaligus sebagai koneksi untuk masuk dalam materi pembelajaran. Guru menjelaskan materi tentang cara menyesuaikan diri hewan dengan lingkungannya melalui rekaman suara. Selanjutnya guru mengirimkan panduan materi melalui WAG. Siswa membaca materi tersebut dengan bimbingan orangtua.

Langkah kedua dengan bimbingan orang tua, siswa mengamati hewan apa saja yang ada di sekitar rumahnya. Mulai dari bentuk kaki, paruh, dan struktur giginya. Setiap hewan memiliki cara sendiri-sendiri untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Siswa menyebutkan berbagai jenis hewan yang ada di lingkungan sekitarnya. 

Temuan hasil pengamatan ditulis siswa dalam catatannya. Misalnya ayam memiliki cakar dengan tiga jari menghadap ke depan dan satu jari menghadap ke belakang. Bentuk kaki ayam digunakan untuk mengais atau menggali tanah untuk mencari makanan. Selain itu kaki ayam memiliki jalu atau taji yang digunakan untuk menyerang musuh memiliki. Paruh ayam memiliki bentuk yang pendek, tebal, dan runcing. Paruh ayam berguna untuk mematuk makanan berupa cacing, biji-bijian, dan hewan kecil lainnya. Ayam termasuk kelompok unggas, pemakan biji-bijian.

Tidak hanya bentuk kaki dan paruh, struktur gigi pun diamati terutama pada hewan-hewan yang mimiliki gigi. Contohnya kucing, gigi kucing tersusun dari gigi taring, runcing-runcing dan tajam. Kuncing termasuk hewan pemakan daging (karnivora)  

Langkah ketiga, siswa membandingkan cara hewan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan menuliskan hasil pengamatan tersebut dalam bentuk laporan sederhana sesuai lembar kerja peserta didik (LKPD). Caranya, siswa menuliskan jenis – jenis hewan tersebut pada kolom yang ada di LKPD. Siswa menuliskan nama, bentuk paruh, bentuk kaki, dan struktur gigi pada kolom-kolom yang sudah disediakan beserta penjelasannya.

Setelah itu, siswa lalu menyampaikan hasil pengamatannya melalui rekaman suara pada WAG dan mengirimkan foto hewan- hewan yang diamati beserta LKPD yang telah dikerjakan. Dalam sesi ini siswa lain memberikan komentar maupun masukan sehingga terjadi komunikasi antar siswa.

Langkah terakhir adalah refleksi. Siswa menyampaikan hal – hal yang menyenangkan dan kendala atau kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran.  Misalkan, Mita mengamati bebek, ayam, dan burung hantu. Ia harus berhati-hati dalam melakukan pengamatan agar hewan tersebut tenang dan tidak pergi. Ia mengamati bentuk paruh, bentuk kaki. Hasilnya ketiga hewan tersebut tidak memiliki gigi. Setelah pengamatan selesai, ia membuat laporan sederhana berdasarkan pengamatan tersebut.

Siswa merasa senang karena melakukan pengamatan langsung dan belajar menjadi peneliti kecil khususnya pada hewan – hewan yang ada di lingkungan sekitar mereka. Guru juga memberikan penguatan dan konfirmasi atas laporan atau jawaban yang dibuat siswa.

Bentuk penilaian pada kegiatan ini yaitu penilaian produk berupa laporan  sederhana yang dibuat oleh siswa berdasarkan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Laporan yang telah dibuat siswa sudah sesuai atau belum dengan kenyataan cara menyesuaikan diri hewan tersebut.

Keterampilan dan pengetahuan ini akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Siswa melakukan pengamatan langsung melatih siswa untuk berpikir ilmiah dan kritis, memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk berinteraksi dengan hewan yang ada di lingkungannya. Melalui kegiatan ini melatih siswa aktif untuk menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan apa yang siswa amati dan alami. Selain itu, membuat siswa lebih tanggap dengan keadaan lingkungan sekitar.

————————————————————————————————————–

*Artikel ini telah tayang di Koran Tribun Jateng tanggal 18 Februari 2021 halaman 9. Pada Kolom Guru Menulis Praktik Baik Kolaborasi Tanoto Foundation dan Tribun Jateng dengan judul Ajak Siswa Teliti Hewan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *