Asah Kemampuan Pacelathon dengan Media Wayang Angkrek

Oleh. Haryoko, S.Pd. Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Patean, Sekolah Mitra PINTAR Tanoto Foundation.

————————————————————————————————————–

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberikan tujuh tips dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh, yakni; hindari stress, guru membagi kelas menjadi kelompok lebih kecil berdasar kompetensi yang sama. guru mencoba project based learning, mengalokasikan lebih banyak waktu bagi yang tertinggal, fokus kepada yang terpenting, tidak ada keharusan mengejar ketuntasan kurikulum, saling berbagi informasi antar sesama guru, dan guru tetap menjalankan perannya sebagai pendidik dengan hati yang senang (Kemdikbud.go.id, 2020).

Menindaklanjuti di atas, guru harus memilih metode, strategi, dan teknik yang tepat untuk tiap kelas. Sebab satu metode, strategi, dan teknik yang unggul di satu kelas belum tentu unggul di kelas lainnya. Kareananya, guru hendaknya menggunakan metode, strategi, dan teknik secara luwes disesuaikan dengan konteks kelas dan pembelajar. Pembelajaran bahasa Jawa pun sebaiknya Gampang, Aktif, Unggul, dan Luwes – GAUL (Suwarna, 2011).

Bahasa Jawa yang memiliki fungsi sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah, dan alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah perlu diadaptasi dalam masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini. Karena bagi masyarakat bahasa Jawa merupakan bahasa budi yang menyiratkan budi pekerti luhur dan cerminan dari tata krama pemakainya.

Bahasa Jawa, sebagaimana kemampuan bahasa lainya dalam PJJ juga diperlukan inisiatif yang adaptif, kreatif dan inovatif sesuai konteks siswa. Salah satunya dengan menggunakan media wayang angkrek yang konstekstual.

Media wayang angkrek adalah wayang yang berbentuk tokoh-tokoh unik, tokoh kartun ataupun tokoh dalam game yang sangat disukai oleh anak-anak. Bahan dan alat yang digunakan sederhana dan murah, antara lain kardus, benang, gunting atau pisau, dan bambu. Siswa diberi kebebasan dalam membuat wayang angkrek yang disukai sesuai dengan naskah cerita sehingga kreativitas siswa akan berkembang serta siswa senang dalam mengerjakan tugas proyek ini. PJJ dengan menggunakan media wayang angkrek sesuai dengan materi wulangan 3 naskah drama di kelas IX SMP/MTs.

Media wayang angkrek ini digunakan untuk meningkatkan kemampuan dalam pacelathon. Pacelathon atau percakapan adalah suatu bentuk komunikasi tukar pikiran yang teratur dan terarah. Baik dalam bentuk drama atau tatap muka dengan tujuan untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. Pacelathon bermakna juga berbicara, karena pacelathon melibatkan kemampuan berbicara, yakni proses mereproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain.

Pembelajaran bahasa Jawa dengan menggunakan media angkrek dibagi dalam beberapa tahapan. Minggu pertama siswa membuat naskah cerita. Minggu kedua siswa membuat wayang angkrek. Tahapan terakhir siswa memvideokan wayang angkrek berdasarkan cerita yang ada di dalam naskah.

Project based learning wayang angkrek ini bagian dari pendekatan belajar aktif di mana siswa Mengalami, ada Interaksi, Komunikasi dan Refleksi sebagaimana dilatihkan oleh Program PINTAR Tanoto Foundation.

Langkah-langkah pembelajaran diawali dengan arahan berisi panduan siswa melakukan aktivitas. Panduan kerja siswa mulanya didiskusikan melalui WAG hingga siswa memahami kemampuan dasar dalam pachelaton.

Langkah selanjutnya, berdasarkan panduan tersebut siswa membuat naskah cerita. Siswa melakukan penelitian sederhana di lingkungannya untuk menentukan tema/judul cerita, menentukan tokoh-tokoh dan wataknya, dan membuat dialog/percakapan. Berdasarkan tokoh-tokoh dan watak yang ada di naskah cerita, selanjutnya siswa membuat wayang angkrek. Dalam langkah ini, siswa terus berinteraksi dengan guru. 

Setelah wayang angkrek selesai dibuat, langkah selanjutnya siswa “melakonkan” wayang angkrek berdasarkan cerita yang ada di naskah sambil direkam menggunakan smartphone dengan bantuan orangtua atau saudara yang ada di rumah. Hasil rekaman video yang terbaik dikirim kepada guru melalui WA.

Melalui WAG, siswa juga dapat berdiskusi dengan teman dan guru berkaitan dengan penyusunan naskah cerita, wayang angkrek, dan pembuatan video. Selanjutnya siswa bersama guru melakukan refleksi.

Beberapa hasil karya siswa lengkap dengan wayang angkrek di antaranya berjudul Keduwung Mburi, Kesandung Watu Gunung, Gelo, dan Krudung Werna Ungu. Penilaian kegiatan dilihat dari produk, yaitu; wayang angkrek, naskah cerita, dan video. Bobot penilaian masing-masing produk, yaitu; wayang angkrek 20%, naskah cerita 40%, dan video 40%. Karya siswa tersebut kemudian didokumentasikan sebagai portofolio siswa.

Berdasarkan hasil diskusi dan refleksi melalui WAG, siswa mengaku senang mengikuti pembelajaran bercerita menggunakan media wayang angkrek. Mereka merasa terbantu dalam membuat naskah cerita, melakonkan lebih mudah dan semakin percaya diri ketika bercerita dalam bahasa Jawa.

————————————————————————————————————-

*Artikel ini telah tayang di Koran Radar Pekalongan tanggal 14 Januari 2021 halaman 5. Pada Kolom Opini Guru Hebat dan Inovatif Kolaborasi Tanoto Foundation dan Radar Pekalongan dengan judul Asah Kemampuan Pacelathon dengan Media Wayang Angkrek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *