Pola Pembelajaran Berubah, Bagaimana Kepala Sekolah Mensupervisinya?

Kendal – Masa tanggap darurat pandemi covid 19 belum jelas sampai kapan. Tak terasa masa ini sudah berjalan satu bulan. Mau tak mau kepala sekolah harus pula mengubah strategi supervisi yang dilakukan kepada gurunya khususnya terkait supervisi akademik. Hal ini disebabkan karena pembelajaran guru tidak lagi dilakukan di dalam kelas namun dilakukan dalam jaringan.

Di SD Negeri 2 Patukangan, pembelajaran jarak jauh menggunakan berbagai cara. Bisa memanfaatkan WhatssApp grup (WAG), menggunakan google classroom, menggunakan acara televisi ataupun tugas proyek, atau sekedar menggunakan pesan singkat untuk membaca bersama buku nonteks. Semua tugas dan model pembelajaran jarak jauh tersebut sesuai dengan Surat Edaran Dinas Pendidikan dan juga Bupati agar tidak memberatkan peserta didik.

Selain itu kita mempertimbangkan lingkungan tempat tinggal peserta didik, agar saat mengerjakan pemberlajaran daring peserta didik dapat tetap mengerjakan di rumah.

Dengan perubahan cara belajar itulah, model supervisi pun kita sesuaikan. Jika semula kita bisa masuk kelas melaksanakan supervisi, saat ini supervisi pun dilaksanakan dengan jarak jauh. Intinya, supervisi ini kita lakukan untuk memastikan bahwa peserta didik belajar dari rumah dengan panduan guru dan orangtua dapat terlaksana dengan baik, sesuai dengan target capaian yang sudah dirumuskan.

Cara yang dilakukan dalam supervisi ini adalah

Diskusi harian

Diskusi harian dewan guru setiap pagi sebelum guru berinteraksi dan melakukan pembelajaran denga peserta didik. Memastikan tugas mempunyai panduan yang jelas, bisa dilaksanakan peserta didik, menyenangkan dan bermakna.

Kepala sekolah  membaca dan memberikan masukan pada skenario tugas dan lembar kerja peserta didik yang telah dibuat guru. Diskusi dengan memanfaatkan WAG memang saat ini merupakan alternatif utama dan paling efektif.

Membantu guru

Kepala sekolah memastikan pengiriman tugas rutin setiap pagi dan membantu guru terkait pertanyaan atau masukan dari orang tua peserta didik. Karena lembar kerja diberikan lewat grup paguyuban kelas agar peserta didik mendapatkan pendampingan dalam pembelajaran jarak jauh.

Kepala sekolah juga harus memastikan pengiriman hasil kerja peserta didik setiap hari dengan melihat dokumentasi kegiatan dan dokumentasi hasil kerja yang dikirimkan dan proses penilaian oleh guru. Bila ada kesulitan dapat dibantu dan didampingi.

Inventaris kompetensi dasar dan produk pembelajaran

Kepala sekolah dan guru harus bersepakat dan membuat portofolio. Caranya, guru menginventarisasi hasil karya peserta didik dengan membuat folder kumpulan karya peserta didik perhari atau per peserta didik untuk memudahkan penilaian.

Inventaris ini juga dapat menjadi penging target capaian yang harus ditempuh. Kepala sekolah lewat WAG atau ketika piket dapat berdiskusi tentang cara penilaian yang dilakukan guru. Bagaimana yang terbaik dan kontekstual dengan peserta didik.

Guru juga diminta menginvestarisir kompetensi dasar (KD) yang memang harus dibelajarkan, melihat potensi untuk digabung dengan KD lain dan mengkombinasikan dengan pola pembelajaran jarak jauh. Tujuannya agar tidak ada meteri penting dan utama yang terlewati.

Umpan balik

Terakhit kepala sekolah harus memberikan masukan dan memberikan penguatan dan umpan balik di WAG paguyuban orangtua.

Selanjutnya selalu berdiskusi intens dengan guru. Baik melalui kelompok kecil ketika kepala sekolah dan guru bertemu saat piket (karena setiap hari guru bergilir masuk bekerja) maupun lewat WAG guru.

Bagaimanapun supervisi akademik memang tetap harus dilaksanakan dan tentunya butuh strategi baru yang kita sesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing.

#1001IdePINTARBelajarDirumah

#KendalCerdas

Penulis: Ninik Chaeroni, M.Pd (Kepala SDN 2 Patukangan dan Fasilitator MBS PINTAR Tanoto Foundation)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *